Meditasi di Tergar Indonesia

👩 : Buddha juga?
👧 : Bukan bu
👩 : Loh kenapa ikut meditasi?
👧 : Yaa.. gapapa kan bu?
👩 : Mau masuk buddha?
👧 : Ngg, nggak juga sih bu
👩 : Terus kenapa ikut meditasi?
👧 : Hmm, biar hatinya tenang bu
👩 : Ohyaya bagus itu memang
.
Kira-kira begitulah percakapan yang terjadi dengan seorang ibu, ketika saya mengikuti kelas meditasi di @tergarindonesia.
Terlepas dari percakapan yang cukup canggung tersebut, kelas meditasi hari itu memberikan sudut pandang yang baru dan sangat positif.
.
Tema saat itu adalah meditasi suara. Setelah pengantar dan perkenalan, peserta yang hadir diminta untuk memfokuskan diri pada hitungan 1 sampai 10 terus menerus, dengan dua latar belakang suara yang berbeda.
.
Awalnya pengajar memutarkan suara kicauan burung sehingga terbayang suasana pedesaan pagi hari. Lalu dalam kurun waktu selanjutnya diputarkan suara klakson dan bising kendaraan yang identik dengan kemacetan.
.
Setelah sesi meditasi selesai, pengajar memberikan pertanyaan sederhana, “Siapa yang lebih nyaman dengan suara pertama?”. Sontak saya mengangkat tangan, karena menurut saya suasana macet sangat mengganggu. Namun saya heran, tidak banyak yang setuju.
.
Pengajar kemudian mengajukan pertanyaan kembali, “Siapa yang lebih nyaman dengan suara kedua?”. Saya cukup lega karena semua bergeming.
.
Tak berhenti di sana, pengajar bertanya lagi, “Siapa yang merasa keduanya sama saja?”. Dan kagetlah saya ketika banyak yang mengangkat tangan tanda setuju.
.
Di akhir kelas pengajar menyampaikan kesimpulan bahwa keduanya sebenarnya sama saja. Mereka sama-sama hanya suara. Persepsi kitalah yang menentukan positif atau negatifkah mereka.
.
Di sanalah saya sadar, ketika kita tidak bisa mengubah sesuatu di luar diri, ada baiknya untuk menengok ke dalam diri dan perlahan mengolah persepsi untuk berdamai dengan situasi.
Tidak mudah memang, namun setidaknya sudah tahu teorinya ya.
.
Saya jadi berpikir, mungkin di tingkat kesadaran yang lebih tinggi, sedih dan senang tak ada beda. Keduanya sama-sama hanya perasaan. Persepsi kitalah yang menentukan positif atau negatifkah mereka, sehingga bisa nyaman atau tidakkah kita menghadapinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s