Category Archives: Refleksi

Amarah

Ada yang bilang, saat sedang marah kita bisa mencoba menjabarkan kemarahan ke dalam bahasa baku untuk membuat amarah berangsur reda.
Demikian pula jika kita marah pada seseorang, mengomunikasikan emosi tersebut dalam kalimat baku akan membuat maksud kita lebih mudah diterima dan tidak menyebabkan kesalahpahaman lebih panjang.
.
Sebenarnya saya tidak ingat benar siapa yang mengucapkan hal ini, bisa saja saya hanya mengada-ada supaya terdengar lebih sahih ๐Ÿ˜ฌ (*sebuah sangkalan).
.
Studi kasus : kita marah karena ada seseorang yang memotong jalan dengan ugal-ugalan saat kita sedang berkendara dengan tenang. Lalu, dengan segera kita mengumpat, “gi*a, nyetir nggak pake o*ak!”.
.
Umpatan spontan memang terkadang sulit ditahan, namun amarah berkepanjangan dapat diminimalisir dengan mengupas umpatan menjadi : saya tadi berkata kasar karena orang tersebut memotong jalan tanpa pertimbangan yang matang, sehingga dapat membahayakan orang lain.
.
Contoh jika ingin marah pada orang lain dan berkata, “gimana sih, gini aja nggak bisa!?”.
Dapat dilunakkan menjadi : saya berekspektasi kamu dapat mengerjakan apa yang saya minta, sehingga ketika kamu gagal melakukannya, saya merasa kecewa.
.
Terbayang ya, membuat deskripsi baku itu melelahkan dan bertele-tele. Mungkin memaksa otak untuk menjabarkan sesuatu dengan bahasa yang tidak kita gunakan sehari-hari, sedikit banyak membantu mengurangi jatah energi yang dapat dipakai otak untuk meledakkan emosi (*sebuah kesoktahuan).
.
Mengumpat mungkin sesaat melegakan, namun menanggung amarah itu membebani.

Quality of A Movie

A friend of mine once said that you can estimate quality of a movie based on the first 10 minutes. If you like it please go ahead, if you don’t like it please just stop.
.
For me adulthood problem could be summarized on that moment when you realize that you don’t really like the first 10 minutes of a movie and you’re caught in a thought whether to finish what you’ve started, just be patient because it could be something awesome, or be true to yourself and don’t waste more time on something you think you know you wouldn’t like.
27 February 2018

Meditasi di Tergar Indonesia

๐Ÿ‘ฉ : Buddha juga?
๐Ÿ‘ง : Bukan bu
๐Ÿ‘ฉ : Loh kenapa ikut meditasi?
๐Ÿ‘ง : Yaa.. gapapa kan bu?
๐Ÿ‘ฉ : Mau masuk buddha?
๐Ÿ‘ง : Ngg, nggak juga sih bu
๐Ÿ‘ฉ : Terus kenapa ikut meditasi?
๐Ÿ‘ง : Hmm, biar hatinya tenang bu
๐Ÿ‘ฉ : Ohyaya bagus itu memang
.
Kira-kira begitulah percakapan yang terjadi dengan seorang ibu, ketika saya mengikuti kelas meditasi diย @tergarindonesia.
Terlepas dari percakapan yang cukup canggung tersebut, kelas meditasi hari itu memberikan sudut pandang yang baru dan sangat positif.
.
Tema saat itu adalah meditasi suara. Setelah pengantar dan perkenalan, peserta yang hadir diminta untuk memfokuskan diri pada hitungan 1 sampai 10 terus menerus, dengan dua latar belakang suara yang berbeda.
.
Awalnya pengajar memutarkan suara kicauan burung sehingga terbayang suasana pedesaan pagi hari. Lalu dalam kurun waktu selanjutnya diputarkan suara klakson dan bising kendaraan yang identik dengan kemacetan.
.
Setelah sesi meditasi selesai, pengajar memberikan pertanyaan sederhana, “Siapa yang lebih nyaman dengan suara pertama?”. Sontak saya mengangkat tangan, karena menurut saya suasana macet sangat mengganggu. Namun saya heran, tidak banyak yang setuju.
.
Pengajar kemudian mengajukan pertanyaan kembali, “Siapa yang lebih nyaman dengan suara kedua?”. Saya cukup lega karena semua bergeming.
.
Tak berhenti di sana, pengajar bertanya lagi, “Siapa yang merasa keduanya sama saja?”. Dan kagetlah saya ketika banyak yang mengangkat tangan tanda setuju.
.
Di akhir kelas pengajar menyampaikan kesimpulan bahwa keduanya sebenarnya sama saja. Mereka sama-sama hanya suara. Persepsi kitalah yang menentukan positif atau negatifkah mereka.
.
Di sanalah saya sadar, ketika kita tidak bisa mengubah sesuatu di luar diri, ada baiknya untuk menengok ke dalam diri dan perlahan mengolah persepsi untuk berdamai dengan situasi.
Tidak mudah memang, namun setidaknya sudah tahu teorinya ya.
.
Saya jadi berpikir, mungkin di tingkat kesadaran yang lebih tinggi, sedih dan senang tak ada beda. Keduanya sama-sama hanya perasaan. Persepsi kitalah yang menentukan positif atau negatifkah mereka, sehingga bisa nyaman atau tidakkah kita menghadapinya.

Duduk dengan Senyap

~nggak ada yang bisa ngalahin suara deru mesin, angin yang berhembus, klakson, mesin lagi, angin, klakson~
.
Pengguna spotify non premium pasti akrab dengan iklan di atas. Walaupun menjengkelkan, perlu diakui bahwa penulisnya cukup mindful ya.
Tidak mudah lho untuk sekedar mendengar suara angin, karena isi kepala cenderung ke sana kemari atau sibuk terisi bagaimana cara mencari distraksi. Iya nggak? ๐Ÿ™‚
.
Secara tidak langsung, si iklan sebenarnya mau memberikan sugesti bahwa kesunyian itu menjemukan.
Bertolak belakang dengan pemikiran tersebut, pada tahun 1952 seorang komposer eksperimental bernama John Cage justru membuat komposisi musik dimana seluruh pemainnya tidak melantunkan nada apapun. Suara apa saja yang muncul selama pertunjukan malahan menjadi komponen utama dari komposisi itu.
.
Karya yang berjudul 4’33” ini dikenal sebagai karya John Cage yang paling penting dan fenomenal, karena dianggap memunculkan gagasan baru bahwa musik dapat tercipta dari suara apa saja.
Bagi saya gubahan tersebut sangat menarik, terlebih karena ia memaksa kita penontonnya untuk duduk diam bersama sunyi yang sering kita hindari, sehingga akhirnya kita sadar bahwa dalam sepi ada keramaian tersendiri.
.
Hal serupa bisa ditemukan pada film A Quiet Place. Selain alur cerita dan eksekusinya yang apik, poin horor utama terletak pada bagaimana film garapan John Krasinski ini mengkondisikan kita untuk terpaksa bercengkerama dengan sunyi yang berjalan sangat lambat dan asing.
Secara tidak langsung, sang sutradara sukses membuat kita ketakutan bukan karena suara yang ia ciptakan, melainkan karena ketiadaan suara yang membuat kita tidak nyaman.
.
Jadi mungkin penting ya untuk menambahkan porsi senyap dalam komposisi satu hari.
Siapa tahu selain bisa menyadari suara deru mesin, angin yang berhembus, dan klakson, kita lebih bisa menyadari suara hati, tanpa perlu merasa asing dan tidak nyaman lagi.
.
Sudahkah kamu duduk dengan senyapmu hari ini?

Cinta adalah Pulang

The most romantic sentence is not “I love you” nor “You’re beautiful”, but “I’m home”.
.
Saya menulis kalimat tersebut di twitter sekitar tahun 2010/2011 setelah saya menonton sebuah film Korea yang tidak terlalu terkenal, berjudul Late Autumn.
.
Film tersebut menceritakan tentang seorang tahanan wanita yang mendapat pembebasan bersyarat selama 72 jam karena ibunya meninggal. Di perjalanan tidak sengaja ia bertemu dengan seorang gigolo yang sedang melarikan diri karena ketahuan jadi selingkuhan istri pengusaha kaya.
.
Filmnya sebenarnya biasa saja, alurnya lambat, tidak terlalu banyak dialog, nilainya di IMDb pun hanya 6.8.
Saya menontonnya semata-mata karena Hyun Bin oppa tokoh utama! ๐Ÿ™ˆ Jadi walau filmnya B saja, saya tetap suka.
(Apakah ini cinta? Hmm.. ๐Ÿค”).
.
Lanjut.. Tapi di situ menariknya yaa.. Kadang menonton film Oscar tidak meninggalkan kesan, sementara menonton film kurang populer justru menjawab pertanyaan kehidupan.
.
Melanjutkan perbincangan tentang apa itu cinta dengan dua orang teman di warung sate di satu sudut Jakarta Selatan, bagi saya cinta adalah ketika kita memandang seseorang/sesuatu dan menemukan ‘rumah’ di dalamnya.
.
Rumah tidak perlu indah, tidak perlu gemerlap, bahkan kadang tidak perlu sependapat. Ia hanya perlu untuk jadi sesuatu yang tidak asing. Sebuah titik untuk pulang.
Saya percaya cinta itu universal. Kita bisa menemukan ‘rumah’ pada keluarga, teman, pasangan, hobi, hewan peliharaan, pekerjaan, bahkan tempat kesukaan.
.
Cinta sebenarnya sederhana, tapi checklist buatan kitalah yang membuatnya rumit. Contohnya begini ๐Ÿ‘‡
Sepertinya saya mulai suka Jakarta. Tapi Jakarta kan panas, macet, nggak ada pantai, masa iya sih ini cinta?
Tuh kan rumit. Padahal tinggal bilang I start to feel at home when I’m with you, Jakarta. Kalimat sederhana, tapi membuat hidup jadi lebih ringan dan bahagia.
(Apakah ini cinta? Hmm.. ๐Ÿค”)
.
Selamat Hari Jumat menuju akhir pekan.
Untuk semua yang mencari pulang,
semoga checklistnya tidak panjang.