Category Archives: Fiksi

Password Wifi

“Mas, password wifinya apa ya?”, tanyamu pada seorang pramusaji yang barusan lewat mengantar menu untuk meja sebelah.
.
“ingatTuhan, Mas”, jawabnya cepat. “Semua disambung. T-nya Tuhan huruf besar”, tambahnya kemudian.
.
“Oh ok, Mas. Makasih ya”, kau menjawab dengan kilat sambil mengetik di handphone.
.
“Kenapa Tuhan harus pakai huruf besar, sih?”, aku berhenti menggigit pisang goreng karena penasaran.
.
“Suka-suka masnya yang bikin password dong”, kau menjawab dengan ngawur. Aku memasang wajah cemberut, tapi aku tahu kau tahu bukan itu yang kumaksud.
.
“Hmm, nggak tahu ya, tapi aturan KBBI gitu sih”, kau menjawab lagi dengan praktis.
.
“Ih, masak gitu doang?”. Karena aku merasa hal-hal kurang penting semacam ini penting, jadilah aku protes.
.
“Tahu nggak, God dalam Bahasa Inggris huruf awalnya juga besar. Tapi cuma buat agama monoteisme”, kau mulai memberikan informasi yang sepele, tapi aku suka. “Kalau agama politeisme, yang pakai huruf besar itu nama dewanya langsung..”
.
“Jadi Zeus huruf besar, tapi greek god huruf kecil?”, aku memotong penjelasanmu.
.
“Yap”, jawabmu sambil lalu, pandanganmu kembali ke handphone.
.
“Ih, aneh. Tuhan yang kukenal nggak pernah minta namanya ditulis pakai huruf besar.”
.
“Ya deh yang akrab sama Tuhan. Kenalan di mana sih, Mbak?”, tanyamu menggoda.
.
“Nggak, warteg langgananku dari jaman kuliah password wifinya gustimbotensare. Disambung, semua huruf kecil”, aku lanjut mengunyah pisang goreng yang dari tadi parkir saja di tangan. “Santai aja gitu. Santai, pakai huruf kecil”.

Top Up Rindu

Budi membacakan anaknya sebuah surat cinta yang ia tulis untuk mantan pacarnya. Bukan, sang mantan itu bukan istrinya. Sang mantan namanya Ina, sedangkan istrinya bernama Ani.
.
Cita-cita Budi sejak lama memang jadi seperti Ted Mosby. Ia ingin menceritakan masa lalu pada anaknya. How I met your mother, katanya.
.
Yang tidak pernah ia rencanakan adalah jadi seperti Rahul Khanna. Itu lho, Rahulnya Anjali, yang anaknya bernama sama dengan nama sang mantan.
.
Anak Budi bernama Ina, sama persis dengan nama sang mantan. Tapi cerita ini tidak sama dengan Kuch Kuch Hota Hai, karena Ani tak tahu menahu soal ini, soal Ina, dan soal surat cinta lama yang masih ada. Masa lalu tidak perlu dibahas lagi, kata Budi pada Ani suatu hari.
.
Selama ini, Budi diam-diam menyimpan surat cinta untuk Ina dalam kaleng Khong Guan. Hari ini tumben Budi membuka kaleng yang sudah berselimut debu dan berhias karat, karena Ani kebetulan sedang dinas ke luar negeri satu bulan.
.
Di Korea, Ani sedang berdiri kedinginan di depan kantor Big Hit Entertainment. Memang kesukaannya dari dulu itu bukan artis Amerika, apalagi India. Hanya artis Korea yang ia suka. Cuma J-Hope yang ada di hatinya. Peduli setan dengan Ted Mosby atau Rahul Khanna.
.
Hari ini Budi dan Ani sedang sibuk dengan cerita cinta sampingan masing-masing. Bukan, mereka bukannya tidak rindu satu sama lain. Mereka percaya, sama halnya dengan mimpi, rindu perlu diisi ulang. Hanya saja hari ini mereka belum top up.

Budidaya Bunga

Seorang bapak pulang kantor larut malam. Seperti biasa istrinya menanti dengan setia di ruang tengah, sambil menonton saluran televisi kesukaan. Walaupun tidak sungguh tahu apa yang dikerjakan sang suami, untuk menjaga meyakinkan diri bahwa ia adalah istri yang baik, dia menanti.
.
Hari ini si bapak sibuk rapat dengan teman-teman karibnya. Mereka adalah orang yang berjasa memberikan bantuan dana saat ia sedang giat-giatnya mulai usaha baru. Kata mereka, “Pakai saja uangnya, kita kan teman lama, tidak perlu khawatir”.
.
Si bapak yang saat itu sedang berusaha mati-matian mengalahkan pesaingnya, menerima bantuan mereka tanpa pikir panjang. Nanti bisalah aku kembalikan pelan-pelan, toh mereka tidak butuh ini, pikirnya dalam hati.
.
Tidak sesuai rencana, mereka datang tiba-tiba saat tahu si bapak menang telak dari sang lawan. Uang yang mereka pinjamkan katanya sudah berbunga-bunga. Naasnya, bunganya bukan mawar, melati, dan semua yang indah.
.
Si bapak kelimpungan.
.
Karena itu, beberapa bulan belakangan ia sibuk mencari cara budidaya bunga. Utamanya tentang bagaimana meningkatkan intensitas panen. Quantity over quality katanya. Buru-buru, ia dikejar waktu.
.
Entah dari mana, cukup jelas bukan dari ladang,
hari ini ia sudah bisa bagi rata, buat semua senang.
.
Seorang bapak pulang kantor larut malam. Seperti biasa istrinya menanti dengan setia di ruang tengah, sambil menonton saluran televisi kesukaan. Saat si bapak datang, si istri tak bisa bersuara, ia gagu, lidahnya kelu.
.
Tanpa pernah bilang pada si istri, si bapak ternyata sibuk jual beli suara. Suara rakyat. Hari ini namanya tertulis besar-besar di layar kaca ruang tengah. Suara istrinya hilang. Hilang ditarik paksa rakyat.

Langit Jakarta Merah

“Langit Jakarta merah, Mbok. Ndak item kayak di kampung.”
.
Itulah kalimat pertamaku sesaat setelah Simbok bertanya tentang Jakarta. Ini hari pertamaku merantau dan jauh dari Simbok.
.
“Kok bisa to, Le? Tapi kamu sehat to? Seneng nggak di sana? Udah kangen ama Simbok belum?”
.
Simbok memberondong dengan banyak pertanyaan sebelum aku bisa menjawab barang satupun. Aku tahu berat baginya untuk melepas anak pertamanya yang belum genap 18 tahun ini.
.
“Ndak tau Mbok, kayanya gara-gara banyak gedung terang, lampu jalan, kendaraan”. Aku berusaha menjelaskan tentang langit. Sepertinya itu jauh lebih mudah daripada harus menjelaskan tentang detail lain kota ini.
.
Di kampung, aku kenal semua orang. Setiap bertemu orang baru yang tidak kukenal, aku selalu menganggukkan kepala, tersenyum, beramah tamah sebentar, sebelum mengajaknya main ke rumah.
.
Angguk, senyum, sapa sudah seperti rumus pasti, rasanya seperti mengalir di urat nadi.
.
Pagi ini, di dalam bis yang bernama Tije itu, tak ada satupun kepala yang mendongak. Semua menunduk khusyuk ke layar putih di genggaman. Hampir saja kukira Tuhan sudah pindah rumah.
.
Jadi kukira wajar, saat sekalinya ada kepala yang terangkat, aku buru-buru mengunci mata padanya, mengangguk, dan tersenyum. Tapi sebelum aku sempat menyapa, wanita di seberang buru-buru mengapit tasnya, lalu menjauh. Aneh.
.
“Mas, gimana Jakarta!?”. Teriakan di telepon menggantikan suara simbok. Adikku yang masih SMP rupanya tidak mau ketinggalan.
.
“Langit Jakarta merah, Dek. Ndak item kayak di kampung”, aku mengulang kalimat yang sama, supaya mudah saja ceritanya.
.
“Owalah Mas, kamu tu di Jakarta opo di Mars to, kok langitnya merah?”, jawabnya cepat.
.
Aku tertawa.
.
Kupikir benar juga ya, mungkin aku sedang di Mars. Dan mbak-mbak tadi pagi itu, alien?

Berhenti Menulis

“Aku baru sadar, aku berhenti nulis sejak kenal kamu”.
.
“Ih, kenapa gitu?”, Dia bertanya dengan sewot.
.
“Nggak tahu ya. Mungkin karena semua percakapan terasa mudah. Aku nggak perlu repot-repot mikirin diksi, buka thesaurus, atau maksain rima nggak pada tempatnya.”
.
___
.
“Lo ngomong gitu ke Dia!?”. Aku tahu dia tidak sadar, tapi Ri sahabatku ini memang nada suaranya akan otomatis meninggi ketika dia kaget atau tidak setuju tentang sesuatu.
.
Aku baru saja menceritakan percakapan terakhirku dengan Dia, sebelum Dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
.
“Emangnya kenapa? I would take that as a compliment instead”, aku sungguh tidak tahu apa yang salah dengan kata-kataku itu.
.
“No one that truly cares with you wants you to be the worst version of yourself when you’re with them. Iya nggak? Coba pikir deh”, Ri terlihat jelas berusaha menurunkan nada suaranya. Tapi entah kenapa kata-katanya tetap terdengar nyaring di telingaku.
.
___
.
“Aku baru sadar, aku mulai menulis lagi sejak kenal kamu”.
.
“Ih, kenapa gitu?”, Dia bertanya dengan tertarik dan penasaran.
.
“Nggak tahu ya. Mungkin karena menulis jadi terasa mudah. I have a source of inspiration, right here, in front of me.”
.
“Hish gombal!”, Dia berkata sambil melempar lap buluk yang teronggok di atas meja.
.
___
.
Mau kutulis ulang berapa kalipun, kenyataan tidak berubah. Aku belajar, kenyataan belum punya tombol undo. Dan cuma fiksi yang bisa ditulis ulang.