Category Archives: Puisi

Rasuk

cinta katamu
bukan tentang siapa
yang kau kenang
di kening
.
cinta bukan tentang kapan
kecup itu
kau kecap
.
juga bukan tentang kenapa
ke dalam palung
kau pulang
.
cinta katamu
adalah tentang bagaimana
kau rasuk
menyatu rusuk
tanpa membuatnya
rusak

Seminggu

rintik dan gerisik berbisik
rembulan ditelan awan
malam temaram muram
.
angin mendesau, bini menggalau
abang bilang pulang, tak jua datang
.
selasa mendosa
rabu kelabu
kamis bertangis
.
jumat sekarat, mokat
abang di peti, bini di bui
jumat kiamat
tamat

I Miss You Like Hell

Missing you is emptier than wake up alone at 3 am,
staring blankly at the ceiling and feel nothing but nothingness
It’s more painful than menstrual cramp,
even worse than vomiting stomach acid due to Gastroesophageal Reflux Disease
It might be like opening a door and come out on the Pacific Ocean,
resemble floating on the unknown more than 227 days, without any direction
Missing you is hungrier than starve on fasting day
Uglier than the ugly duckling on Hans Christian Andersen’s story
More tedious than waiting for the bus for 1,5 hours
Colder than rainy night at July 15th
More horrifying than Indonesian mystical myth
Bitter than Quinine Sulphate
More obnoxious than the Most Annoying People On The Internet
Drearier than Edgar Allan Poe’s stories
More hurtful than being left out alone on the street by people you know
If heaven is really exist, it must be in the deep of your eyes
Because you know what, missing you is very much like hell
and I’m exhausted.

Sore Seperti Ini

Aku merindukan sore seperti ini
Sore yang basah bermain hujan
Harum tanah yang mengandung magis
Suara radio tetangga samar di pojok dinding
Dan senja tua yang sebentar kemudian pecah
Sore seperti ini
Sore yang aku kenal sejak belum mengenal aksara
Hal pertama yang membuat aku melafal jingga
juga merah muda
Beserta kesepian yang mereka bawa
di tiap tetes hujan yang mengalir di jendela
Sore yang sempurna
Ketika sendiri berteman dengan senja tua, 
tanah basah, dan jendela kaca
Semua saling mengerti tanpa satupun kata
Sederhana

Senja Merah Kelabu

Bertahun saya anggap senja sama dengan
pulang.
Tak hanya ke rumah,
namun juga ke abu-abu.
Tempat kamu dikenal sebagai dirimu.
Berpuluh senja saya menatap burung-burung terbang,
pulang.
Orang-orang berdesakan di jalan berebut
pulang.
Saya tak kunjung pulang
tidak iri
saya mengerti
lalu menatap nanar,
sabar. 
Namun, senja hari ini berbeda,
ia terlihat begitu merah jambu
sendu. 
Dan pulang terdengar begitu jauh, 
tak tersentuh. 
Peluh dari mata saya, jatuh.