Hidup Bahagia Menurut Filosofi Epikuros

“He who is not satisfied with a little is satisfied with nothing.”

– Epicurus

Siapakah Epikuros?

Sumber

Epikuros (dalam Bahasa Inggris Epicurus, dalam Bahasa Yunani Kuno Epikouros), adalah seorang filsuf Yunani kuno yang hidup pada tahun 341–270 BC. Ia merupakan pendiri komunitas The Garden sekaligus pendiri ajaran epikurisme (epicureanism).

The Garden

The Garden merupakan komunitas yang mengutamakan persahabatan dan kebersamaan. Mereka hidup bersama dengan mempraktekkan cara hidup frugal, makan bersama secara sederhana. Mereka juga merayakan tanggal lahir Epikuros setiap bulan (ulang bulan) dan menerima wanita sebagai anggota (tidak seperti komunitas filsuf lain).

Apakah ajaran Epikurisme?

Kenikmatan (pleasure) adalah hal terpenting dalam hidup, kenikmatan merupakan awal dan akhir hidup yang bahagia. Rasa nikmat mencapai puncak saat rasa sakit, baik fisik maupun mental, hilang. Puncak rasa nikmat dikategorikan oleh Epikurisme menjadi 2, yaitu : ketiadaan sakit fisik atau aponia dan ketiadaan gangguan pikiran atau ataraxia.

Epikuros berpendapat jiwa selalu takut kehilangan kenikmatan ragawi, takut pada hukuman setelah kematian, atau takut jatuh ke dalam penderitaan. Oleh karena itu, Epikurisme memiliki 4 anjuran terapi bagi jiwa untuk hidup yang bahagia.

Tetrapharmakos

  • tidak perlu takut pada dewa
  • tidak perlu takut pada kematian
  • kenikmatan memiliki batas
  • rasa sakit memiliki batas

Pandangan Epikurisme tentang Dewa (Tuhan)

Epikurisme percaya bahwa dewa berbeda dengan pikiran kebanyakan orang (yang hanyalah perkiraan). Mengikuti pikiran banyak orang, justru meniadakan dewa.

Epikurisme mengkritik hubungan manusia-dewa yang bersifat transaksional. Misalnya, manusia berbuat baik agar mendapatkan kebaikan dari dewa sebagai timbal balik. Atau adanya bencana alam adalah bentuk hukuman tuhan atas perbuatan manusia yang tidak baik.

Kehidupan dewa itu immortal dan tidak ada urusan dengan hidup manusia, karena dewa hidup di luar waktu. Sebagai perumpamaan, dewa seperti pembuat jam. Setelah selesai membuat jam, ia membiarkan jam berjalan sendiri, tidak mengamati atau mengawasi terus menerus. Dewa ada tetapi tidak terlibat dengan manusia.

Ia juga berpendapat bahwa ketakutan pada dewa adalah opini dan hasrat kosong yang disebabkan oleh kepercayaan tentang jiwa yang akan tetap ada setelah kematian.

Pandangan Epikurisme tentang Kematian

Proses manusia berpikir dimulai dari adanya sensasi yang diterima panca indera. Epikurisme tidak membenarkan adanya penilaian tambahan atas sensasi. Sehingga saat mati dan tidak lagi bisa menerima sensasi, manusia tidak ada. Tidak perlu diberi opini tambahan yang menyebabkan ketakutan.

Tubuh dan jiwa adalah satu. Tidak ada sesuatu tanpa tubuh.

Kematian tidak ada hubungan dengan manusia. Saat kita ada, kematian tidak ada. Saat kematian ada, kita tidak ada.

“Why should I fear death?

If I am, then death is not.

If Death is, then I am not.

– Epicurus

Pandangan Epikurisme tentang Kenikmatan yang Ideal

Epikurisme mengajarkan tentang kenikmatan yang minimalis, yaitu mengurangi keinginan dengan demikian menghilangkan ketidakbahagiaan yang disebabkan oleh keinginan yang tidak terpenuhi. Untuk itu, ia membagi keinginan menjadi 3 kategori :

  • Keinginan yang alami dan mutlak (kenikmatan yang ideal). Termasuk dalam ini adalah keinginan terbatas yang perlu dicukupi, agar manusia bisa bahagia, bebas dari rasa sakit, dan terus bisa hidup, sebagai contoh keinginan akan makanan.
  • Keinginan yang alami dan tidak mutlak. Keinginan untuk makan makanan yang enak masuk ke dalam kategori ini. Epikurisme berpendapat keinginan ini perlu dihindari karena tidak meningkatkan kebahagiaan secara substansial, namun justru dapat menimbulkan ketidakbahagiaan, karena manusia salah menafsirkannya sebagai keinginan mutlak yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup.
  • Keinginan yang tidak alami dan tidak mutlak. Keinginan ini adalah keinginan yang tidak terbatas dan tidak akan pernah cukup dipenuhi. Masuk dalam kategori ini adalah keinginan untuk menjadi kaya, terkenal, dan punya kekuasaan. Epikurisme juga berpendapat keinginan ini perlu dihindari, karena hanya akan menimbulkan perasaan tidak nyaman.

(Masih) Pandangan Epikurisme

  • Pendidikan seharusnya membawa individu langsung ke hal yang dipelajari. Aku yang mengetahui harus terhubung dengan aku yang menjalani.
  • Epikuros menolak menyamaratakan berpengetahuan banyak dengan bijak. Karena belajar banyak tidak sama dengan memahami.
  • Pendidikan membentuk orang hidup untuk self sufficient, bangga atas apa yang pantas dimiliki.
  • Berfilsafat tidak perlu merujuk ajaran lain, jadilah murid bagi diri sendiri.
  • Terus-menerus mengejar kenikmatan, justru mendatangkan ketidaknikmatan.
  • Nikmati apa yang bisa dinikmati kini dan di sini. Jangan menyia-nyiakan hal yang dimiliki sekarang untuk hal yang belum terjadi.

*Tulisan ini adalah rangkuman dari Webinar Philosophy Underground “Tujuh Jalan Bahagia” pertama : “Bahagia Hedonis a la Epikuros” oleh A. Setyo Wibowo sebagai pemateri, diadakan pada Jumat, 11 September 2020 (dengan beberapa tambahan informasi dari internet).

Sumber Lain :

https://en.wikipedia.org/wiki/Epicurus

https://en.wikipedia.org/wiki/Epicureanism

https://en.wikipedia.org/wiki/Katastematic_pleasure

https://en.wikipedia.org/wiki/Tetrapharmakos

Gereja Katolik dalam Film Ave Maryam (Spoiler)

Ave Maryam adalah sebuah film Indonesia tahun 2019, bergenre drama dan disutradai oleh Ertanto Robby Soediskam. Diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1998, film ini mengangkat tema hubungan terlarang antara pastur bernama Yosef dan biarawati bernama Maryam. Setelah ditayangkan pada tahun 2019 di sejumlah bioskop tanah air, mulai Bulan September 2020 Ave Maryam dapat diakses melalui Netflix, kendati ada pemotongan durasi karena sensor.

Mengambil setting di Kota Semarang, film ini menyuguhkan landskap pariwisata yang diwakili oleh Kawasan Kota Lama (beberapa adegan Maryam berjalan kaki, Yosef naik sepeda, dan mereka berdua naik mobil), Gedung Spiegel (tempat Yosef dan Maryam janji temu), dan juga Gereja Blenduk (saat Maryam berpapasan dengan Yosef, sebelum diajak mampir ke toko roti). Gereja Blenduk sebenarnya adalah Gereja Kristen, nama lainnya adalah GPIB Immanuel Semarang. Oleh karena itu, untuk melengkapi setting cerita berlatar Gereja Katolik, film ini memilih beberapa tempat berikut ini sebagai interior gereja :

Gereja Katolik Santo Yusuf Ronggowarsito

Gereja dengan gaya neogotik ini merupakan lokasi pembuka sekaligus penutup film. Di awal, digambarkan Maryam seorang diri dengan tas dan koper di sampingnya. Ia berdoa sembari mengingat perjalanan hidupnya (dikisahkan melalui keseluruhan film). Di akhir cerita, Maryam selesai berdoa, mengangkat koper, dan pergi meninggalkan gereja. Gestur tanpa dialog yang membuat penonton memahami keutuhan cerita ini diperankan di sebuah gereja yang didirikan pada tahun 1870 sampai tahun 1875. Gereja ini dikenal juga dengan nama Gereja Gedangan, Gereja Katolik pertama di Semarang.

Lawang Sewu

Adegan sesaat sebelum Maryam melihat Yosef mengajar orkestra, berlokasi di gedung ini. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907, Lawang Sewu dahulu digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api Hindia Belanda. Salah satu daya tariknya adalah kaca patri yang terletak di puncak tangga dengan komposisi interior yang simetris. Kaca patri termasuk karya seni yang biasa digunakan untuk menggambarkan simbol, tokoh, atau peristiwa. Karena pengerjaan yang cukup rumit, kaca patri umumnya hanya digunakan untuk bangunan-bangunan penting, kini lebih identik dengan tempat ibadah. Jadi, tidak heran jika tempat ini dipilih sebagai ruangan yang dilewati oleh Maryam, sesaat setelah ia keluar dari pintu gereja.

Kapel Susteran OSF Gedangan

Selain Gereja Santo Yusuf, kapel ini juga digunakan sebagai tempat ibadah para suster. Dalam film tidak diceritakan kenapa ada 2 tempat ibadah yang digunakan, namun secara geografis lokasi kapel ini memang berdekatan dengan Gereja Santo Yusuf. Terletak di dalam kompleks yang sama, kapel ini juga mengadopsi gaya neogotik, peletakan batu pertamanya adalah pada tahun 1891. Pemilihan bangunan-bangunan dengan umur yang kurang lebih sama, membuat film ini memiliki latar yang konsisten.

Walaupun setting sudah sedemikian rupa digarap dengan rinci, ada beberapa detail film yang terasa kurang tepat bagi saya. Sebagai catatan, saya dibesarkan di lingkungan Katolik. Mungkin detail-detail ini tidak akan terlalu disadari oleh pemeluk agama lain.

Warna Liturgi

Dalam Gereja Katolik ada beberapa warna liturgi. Warna-warna ini digunakan untuk membedakan hari raya tertentu dengan hari biasa. Sebagai contoh, masa Adven (1 bulan sebelum Natal) warna liturginya adalah ungu, sementara hari biasa adalah hijau. Penggunaan warna liturgi ini seharusnya senada baik untuk atribut gereja maupun busana yang dikenakan romo.

Mengutip dari Laman Wikipedia Ave Maryam, pengambilan gambar utama dilakukan selama sembilan hari di Semarang dan Yogyakarta pada 26 November 2016. Tanggal tersebut merupakan Minggu Adven Pertama, sehingga setting gereja bernuansa ungu (tampaknya kru film tidak mengubah dekorasi gereja). Dalam film tidak disebutkan pada bulan apa tepatnya kejadian itu berlangsung, namun menjadi rancu karena pastur mengenakan jubah berwarna hijau.

Clerical Collar

Sepanjang film, busana yang mayoritas digunakan oleh Romo Yosef adalah kemeja berwarna hitam dengan kerah tertutup dan aksen putih di bagian tengah. Di luar negeri, pakaian seperti ini umum digunakan oleh seorang pastur/romo. Di Indonesia, tidak semua romo menggunakan baju klerus, banyak dijumpai romo yang menggunakan kemeja biasa pula.

Dahar Romo

Pastur biasanya tinggal di pasturan yang berlokasi satu kompleks dengan gereja. Kebutuhan makanan disediakan oleh umat secara bergilir, di Jawa sering disebut sebagai dahar romo. Biasanya hantaran dahar romo ini diantar ke pasturan, bukan ke gereja. Adegan di atas terasa janggal karena Romo Yosef menerima rantang yang diantarkan oleh Dinda di depan gereja, lalu membawanya masuk ke dalam.

Detail-detail tersebut di atas mungkin tidak mempengaruhi jalan cerita, namun suatu film akan terasa lebih nyata, jika detailnya diriset dari dan digarap menyerupai realita. Terlepas dari itu, saya menikmati film ini karena sinematografi yang sangat cantik dan saya mengapresiasi film ini karena berani mengangkat topik yang cukup tabu untuk dibicarakan.

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Sebuah buku karya Eka Kurniawan.

Buku yang berpusat pada 1 tokoh dan 3 tokoh lain yang keputusan dalam hidup mereka digerakkan oleh masa lalu yang enggan lalu. Perihal simbolisasi tubuh yang punya beban jauh lebih berat daripada fungsi, trauma tidak usai yang membentuk masa depan, dan filsafat hidup yang bermuara dari kekerasan.

Buku dengan banyak pesan, tapi bukan pesan moral.

Alur maju mundur sesuka hati penulis, tapi tetap enak dinikmati.

Karakter yang tidak hanya hidup, tapi juga berkembang.

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Eka Kurniawan

Kumpulan cerpen pertama Eka Kurniawan yang kubaca.

Buku ini terdiri dari 15 Cerita Pendek. Setahuku judul kumpulan cerpen biasanya dibuat sama dengan tajuk cerita pendek terbaik di buku tersebut. Bisa jadi cerita kesukaan penulis atau penerbit, bisa pula asumsi mereka terhadap selera pembaca.

Aku tidak terlalu suka cerita yang diangkat jadi titel buku ini, entah karena ekspektasi sudah tinggi karena ia satu-satunya judul yang dicetak berwarna atau karena sang penerbit over selling cerita yang kurang tepat untuk dijadikan utama.

Cerpen favoritku berjudul Tiga Kematian Marsilam.

Namun, kukira itu masuk akal, agaknya cerita cinta memang lebih mudah dijual ketimbang cerita tentang kematian.

Saman – Ayu Utami

Aku tidak ingat benar ini buku kedua atau buku ketiga Ayu Utami yang kubaca. Yang aku ingat, tulisan Ayu Utami selalu mengusik keinginan untuk bertanya lebih jauh, juga menggali sudut pandang yang biasa tak tersentuh.

Bahwa tak seperti makanan yang disuapkan kepada seorang anak dengan harapan langsung dilahap, ide yang kita terima perlu dikunyah, atau bahkan dilepeh dan diamati dulu sebelum ditelan.

Juga bahwa kebenaran bisa saja tidak sebegitu benar.