#1

Ketimbang gunung, Marini jauh lebih menggemari laut. “Bukankah kehidupan seharusnya memang panas dan lengket”, begitu selalu ujarnya. Mungkin karena namanya Marini. Konon, nama itu ada hubungannya dengan kelautan.
Marini tinggal di tepian laut semenjak kecil. Di sebuah kota pelabuhan yang jarang terdengar namanya, mungkin hanya akrab di telinga nahkoda-nahkoda tua saja.
Ia belajar berenang sesaat setelah ia dapat berjalan, ayahnya membawanya ke laut dan membiarkan ombak menjadi guru bagi anak perempuannya. Marini belajar dengan cepat. Lalu sejak saat itu, tiap ia merindu rumah, ia pulang ke laut. Mencari sang ombak gurunya dan menemukan rumah yang menenangkan disana.
Berapa kali ia tidak ingin kembali. Ia biarkan laut menarik dirinya jauh ke dalam, membawanya pulang. Sekali ketika ibunya pergi meninggalkan rumah di pelukan seorang nahkoda Belanda yang menjanjikan cinta yang lebih besar daripada ayahnya. Dan sekali ketika ia melihat ayahnya tewas terbelit jala yang telah menyelamatkan kehidupan mereka dua dasawarsa.
Marini rindu rumah.
Berkali ia tidak ingin kembali, namun kesadarannya selalu mengangkat dirinya ke permukaan. Kesadaran yang selalu muncul di saat yang tepat, ketika oksigen terakhir yang tersisa tak sanggup lagi mengaliri paru-parunya. Kesadaran yang membawanya kembali ke tepian dan meyakinkan dirinya ada rumah yang lebih indah di tempat ia berpijak.
Marini sungguh ingin percaya..
posted from Bloggeroid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s