"Biar semuanya berjalan bagaimana seharusnya"

Mungkin saya menulis ini sebagai bentuk pembelaan diri atas rasa bersalah yang muncul di hati kecil saya, kemudian.
Seperti telah saya ceritakan sebelumnya. Rutinitas saya selama 1,5 bulan yang lalu, naik bis pulang pergi kantor, membawa saya ‘mengenal’ beberapa orang yang saya temui dengan rutin pula.
Sebutlah ibu y, dari beberapa kali pertemuan di dalam bis, saya mempelajari bahwa ia selalu pergi ke sekitar Kuta dan pulang ke Batubulan. Ia seorang penjaja buah tangan keliling, namun ia tidak menjaja di bis. Tak jarang kami bertukar senyum ketika kami saling bertatapan, walaupun kami tak pernah saling bicara. 3 minggu ini saya sudah tak lagi naik bis yang sama, namun jelas saya masih mengingat ia.
Sore kemarin, kebetulan saya makan bersama bapak saya di sebuah rumah makan di area Kuta. Tempat ini memiliki area terbuka di dekat jalan raya dan kebetulan sekali lagi saya memilih duduk di area tersebut bukan di dalam.
Singkat cerita, muncullah seorang ibu dari balik bahu saya menawarkan buah tangan. Seperti biasa saya cepat menunjukkan 5 jari saya seraya mengatakan “Tidak, terima kasih”. Semua terasa sangat wajar, hingga saya menoleh dan melihat ibu y disana. Saya terkejut dan memandangnya seolah berkata “Eh, Ibu?”, ia balas memberi tatapan “Hei, halo.. (dan entah kata apa yang ia ‘ucapkan’ selanjutnya)”, sepertinya mata saya tak sanggup mendengar lebih lanjut. Saya terdiam, bingung harus berbuat apa. Interaksi ia selanjutnya berlangsung dengan bapak saya, dengan akhir kami tetap tidak membeli apa-apa. Saya tidak benar tahu apakah ia pergi dengan wajah masam, namun saya jelas tahu saya diam dengan rasa bersalah.
Setelahnya, saya ceritakan semuanya pada bapak saya dan bertanya apa yang seharusnya saya lakukan dalam situasi tersebut. Ia menjawab, “Biar semuanya berjalan bagaimana seharusnya”.
Malam ini saya terus mengingat tatapannya dan menemukan beberapa hal terserak yang tidak dapat saya satukan ini:
1. Saya terdiam, konon karena saya bingung apa yang harus saya lakukan. Mengapa? Dulu saya ada pada posisi yang sama dengan ia. Kami sama-sama pengguna jasa transportasi. Kami sama-sama mengenal satu sama lain sebagai penumpang. Lalu kini saya dihadapkan pada momen dimana kami tidak lagi di posisi yang sama. Ada yang membeli-dibeli, membayar-dibayar. Ketidaksamaan predikat yang tetiba datang ini membuat saya terkejut, diam, saya tidak siap.
2. Biar semuanya berjalan bagaimana seharusnya. Biasanya ketika ada penjual yang datang dan tak ada yang ingin kami beli, sepaket interaksi itulah yang akan terjadi. Bagaimana seharusnya, telah berjalan seperti seharusnya. Namun, saya merasa bersalah, saya merasa ada yang salah. Ada apa?
3. Setelah menggali lebih dalam, saya merasa bersalah karena tidak ‘membantu’ ibu y, karena kami ‘kenal’ satu sama lain. Saya merasa kasihan terhadap ia.
4. Pikiran tersebut lekas tenggelam oleh pikiran selanjutnya (yang konon saya temukan setelah saya menggali lebih dalam). Atas dasar apa saya merasa kasihan? Karena ia menjaja dan saya sedang makan disana? Karena ia masih bekerja di Sabtu sore dan saya tidak? Apa mungkin saya merasa sedikit lebih hebat darinya akhirnya jatuh kasihan? Bukankah ia sedang menjalani pekerjaannya?
Saya menyesal telah merasa kasihan, saya seharusnya jauh menghargai ia dan pekerjaannya.
5. Saya merasa ‘berkawan’ dengan ia. Dan saya ingin menghargai pekerjaannya tanpa memberi label apapun, tanpa rasa iba atau kasihan. Jauh di dalam iba, tak banyak terlihat, ia juga menyimpan perasaan merasa lebih ‘hebat’.
Lama saya telah merasa sama dengan ia. Saya dan ia sama-sama pekerja, hanya berbeda tempat dan waktu saja. Iba jika muncul tanpa sadar akan mudah menghancurkan ‘perkawanan’ tersebut. Karena itu saya tidak memilih iba sebagai keluaran.
5. Saya menghargai ia dengan tidak memilih iba. Ia menjaja seperti biasa, saya tidak membeli seperti biasa. Namun, bagaimana bila penghargaan yang ia butuhkan sebenarnya adalah sebuah kertas bernilai yang membuat semua hal rumit itu? Bagaimana bila ia tidak butuh ‘perkawanan’?
6. Di titik ini saya tidak sanggup lagi berpikir. Kepala saya terlalu banyak memunculkan pertanyaan dan menduga tanpa memberi jawaban dan kepastian. Mari kita sudahi saja.
Mungkin diam-diam ibu tadi bersyukur karena saya diam tidak berpanjang kata dan membiarkan ia bekerja bagaimana seharusnya. Dan mungkin terang-terangan sandiwara terus berjalan di dalam kepala saya, saja.
posted from Bloggeroid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s