Tag Archives: Ayu Utami

Saman – Ayu Utami

Aku tidak ingat benar ini buku kedua atau buku ketiga Ayu Utami yang kubaca. Yang aku ingat, tulisan Ayu Utami selalu mengusik keinginan untuk bertanya lebih jauh, juga menggali sudut pandang yang biasa tak tersentuh.

Bahwa tak seperti makanan yang disuapkan kepada seorang anak dengan harapan langsung dilahap, ide yang kita terima perlu dikunyah, atau bahkan dilepeh dan diamati dulu sebelum ditelan.

Juga bahwa kebenaran bisa saja tidak sebegitu benar.

Si Parasit Lajang – Ayu Utami

Sebulan nggak bersentuhan dengan internet, kemarin saya dikejutkan dengan berita bahwa Ayu Utami (Penulis Saman, Larung, Bilangan Fu) yang sempat mendeklarasikan dirinya tidak akan menikah, akhirnya menikah juga di pertengahan Agustus lalu. Sejenak tertegun dan berpikir apa yang merubah pikirannya? Saya langsung memutuskan membongkar kardus2 novel lama, dan saya temukan salah satu Kumpulan Esainya yang berjudul Si Parasit Lajang : Seks, Sketsa, dan Cerita.
“Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.” Ayu Utami
Saya membaca buku ini sekitar tahun 2007, dan ini adalah salah satu buku yang membuka pikiran saya bahwa siklus kehidupan tidak hanya berputar pada lahir-sekolah-bekerja-menikah-punya anak-lalu meninggal. Ada opsi lain bahwa manusia, disini khususnya wanita, memiliki pilihan untuk tidak menikah, hidup sendiri, dan tetap bahagia. Kemantapan seruan Ayu Utami yang menyatakan dirinya tidak akan menikah, membuat saya berpikir kembali mengenai bagaimana saya akan menjalani kehidupan saya nantinya.
Mengetahui keputusannya telah berubah 180 derajat, membuat saya (sebagai salah seorang yang mendukung keputusannya untuk tidak menikah) agak kecewa, awalnya. Banyak pihak pula yang ‘menertawakan’ ketidakkonsistenannya tersebut. Namun, dari beberapa twit beliau saya dapat menemukan bahwa semangat yang diusungnya untuk kemerdekaan wanita belumlah berubah.

20 Agustus 2011

Mencoba berpikir kembali, saya rasa menikah disini hanyalah metafora.
Menikah (dipukul rata) sebagai bentuk ketidakberdayaan wanita akan lingkungannya dan kepasrahan akan kentalnya ketidaksetaraan jender yang akhirnya memojokkan wanita-wanita yang memutuskan tidak menikah. Inilah ide utama yang saya tangkap dari seruan Ayu Utami tersebut, seruan agar wanita tidak berdiam diri dan memperjuangkan haknya.
Apabila menikah (di benak tiap-tiap orang, tidak hanya Ayu Utami) benar-benar dipukul rata memiliki arti yang demikian, saya rasa akan banyak Ayu Utami-Ayu Utami lain yang akan bermunculan.
Perkara akhirnya menikah atau tidak, saya amini sebagai keputusan hidup beliau. Sebagai pembaca dan pendengar, saya hanya bisa berpikir agar tidak terjebak pada metafora tersebut, karena Ayu Utami sebenarnya masih mengusung ide awal yang ia suarakan. Dengan demikian, dalam hal ini, ia masih ‘tidak menikah’.

Akhir kata, saya kutip twit dari Mustika T. Yuliandri, seseorang yang tidak saya kenal, namun saya setujui pemikirannya.

“Saya memperjuangkan kebahagiaan. Kalo perawan tua dan tidak perawan bisa membahagiakan itu sudah cukup.”