Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

Buku Eka Kurniawan yang pertama kali kubaca.

Kalau diibaratkan orang jualan, Eka Kurniawan di Lelaki Harimau itu seperti pedagang teh tarik. Perkara mengawinkan teh dan susu yang tidak sekadar. Perjalanan meracik yang sedemikian menarik, tidak membosankan, dan begitu legit.

Eka sungguh piawai dalam merangkai kalimat yang membawa pembaca melompat dari masa ini ke masa itu, juga dari latar sini, situ, dan sana. Transisi dari satu ruang ke ruang lain ditulis begitu halus, tanpa terputus. Membaca buku ini terasa seperti melihat orang menganyam dengan sangat rapi, menari dengan sangat luwes.

Donor Darah Keempat

Kata Gugelberg yang sudah lebih sering donor, biasanya saat bulan puasa stock darah di PMI berkurang, ditambah lagi ini sedang PSBB. Dari kemarin, sering beredar info dari PMI yang mengajak masyarakat tetap donor darah, tidak perlu takut karena protokol pengambilan darah yang dilakukan di PMI dibuat seaman mungkin untuk semua.

Hari ini akhirnya saya bisa donor lagi setelah masa tunggu dari donor sebelumnya. Dari luar, PMI kelihatan ramai karena ada tenda (biasanya tidak ada) yang ternyata digunakan sebagai ruang tunggu untuk keluarga pasien yang butuh darah. Di meja pengambilan formulir, petugas menanyakan apa saya bersedia menjadi donor untuk seorang pasien, sambil menunjukkan selembar kertas bertuliskan nama.

Biasanya saya donor saja tanpa tahu darah saya untuk siapa, ya sebagai stock PMI saja. Kali ini sudah ada orang yang menunggu. Mungkin selesai donor, darah akan dibawa langsung ke RS pasien tersebut.

PMI Pusat lokasinya di Jalan Kramat Raya, buka 24 jam.

Hening Serentak Bersama Mas Adjie Santosoputro

Merangkum kelas #heningserentak episode 12 :

BELAJAR MENGURANGI EKSPEKTASI

Untuk bisa mengurangi ekspektasi kita perlu meningkatkan :

  • kemampuan untuk letting go, bagaimana memeluk situasi yang berantakan
  • kemampuan membuka diri untuk new possibilities
  • mengurangi ekspektasi agar orang lain membahagiakan kita dan tidak membalas orang yang menyakiti hati kita (kesulitan memaafkan orang lain biasanya bersumber dari kesulitan memaafkan diri sendiri)
  • pranihita, hidup tidak punya tujuan, karena di saat ini, di sini kini, kita sudah tiba

Keinginan untuk mengejar sesuatu itu manusiawi, tapi mengurangi ekspektasi bahwa itu akan menuju ke suatu titik tertentu, mungkin justru akan meningkatkan kebahagiaan.

Doing something for the sake of doing (tambahan sendiri, karena sejalan dengan tema).

Terima kasih Mas Adjie Santosoputro.

Warteg Lockdown

Overheard Warteg : Nek wis wayahe mati yo mati. Kuwi anak sekolah diliburke 2 minggu njuk meh ngopo?

Terjemahan : Kalau waktunya mati ya mati. Itu anak sekolah diliburin 2 minggu terus mau ngapain?

Terlepas dari ilmu pasrah tinggi, ketidakpedulian, atau ketidakmengertian, buat sebagian masyarakat Indonesia bayangan nggak bisa kerja (atau nggak bisa buka warteg) lalu nggak dapat uang – jika terjadi lockdown – jauh lebih mengerikan daripada bayangan kena Corona. #sudutpandanglain

Password Wifi

“Mas, password wifinya apa ya?”, tanyamu pada seorang pramusaji yang barusan lewat mengantar menu untuk meja sebelah.
.
“ingatTuhan, Mas”, jawabnya cepat. “Semua disambung. T-nya Tuhan huruf besar”, tambahnya kemudian.
.
“Oh ok, Mas. Makasih ya”, kau menjawab dengan kilat sambil mengetik di handphone.
.
“Kenapa Tuhan harus pakai huruf besar, sih?”, aku berhenti menggigit pisang goreng karena penasaran.
.
“Suka-suka masnya yang bikin password dong”, kau menjawab dengan ngawur. Aku memasang wajah cemberut, tapi aku tahu kau tahu bukan itu yang kumaksud.
.
“Hmm, nggak tahu ya, tapi aturan KBBI gitu sih”, kau menjawab lagi dengan praktis.
.
“Ih, masak gitu doang?”. Karena aku merasa hal-hal kurang penting semacam ini penting, jadilah aku protes.
.
“Tahu nggak, God dalam Bahasa Inggris huruf awalnya juga besar. Tapi cuma buat agama monoteisme”, kau mulai memberikan informasi yang sepele, tapi aku suka. “Kalau agama politeisme, yang pakai huruf besar itu nama dewanya langsung..”
.
“Jadi Zeus huruf besar, tapi greek god huruf kecil?”, aku memotong penjelasanmu.
.
“Yap”, jawabmu sambil lalu, pandanganmu kembali ke handphone.
.
“Ih, aneh. Tuhan yang kukenal nggak pernah minta namanya ditulis pakai huruf besar.”
.
“Ya deh yang akrab sama Tuhan. Kenalan di mana sih, Mbak?”, tanyamu menggoda.
.
“Nggak, warteg langgananku dari jaman kuliah password wifinya gustimbotensare. Disambung, semua huruf kecil”, aku lanjut mengunyah pisang goreng yang dari tadi parkir saja di tangan. “Santai aja gitu. Santai, pakai huruf kecil”.