Berhenti Menulis

“Aku baru sadar, aku berhenti nulis sejak kenal kamu”.
.
“Ih, kenapa gitu?”, Dia bertanya dengan sewot.
.
“Nggak tahu ya. Mungkin karena semua percakapan terasa mudah. Aku nggak perlu repot-repot mikirin diksi, buka thesaurus, atau maksain rima nggak pada tempatnya.”
.
___
.
“Lo ngomong gitu ke Dia!?”. Aku tahu dia tidak sadar, tapi Ri sahabatku ini memang nada suaranya akan otomatis meninggi ketika dia kaget atau tidak setuju tentang sesuatu.
.
Aku baru saja menceritakan percakapan terakhirku dengan Dia, sebelum Dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
.
“Emangnya kenapa? I would take that as a compliment instead”, aku sungguh tidak tahu apa yang salah dengan kata-kataku itu.
.
“No one that truly cares with you wants you to be the worst version of yourself when you’re with them. Iya nggak? Coba pikir deh”, Ri terlihat jelas berusaha menurunkan nada suaranya. Tapi entah kenapa kata-katanya tetap terdengar nyaring di telingaku.
.
___
.
“Aku baru sadar, aku mulai menulis lagi sejak kenal kamu”.
.
“Ih, kenapa gitu?”, Dia bertanya dengan tertarik dan penasaran.
.
“Nggak tahu ya. Mungkin karena menulis jadi terasa mudah. I have a source of inspiration, right here, in front of me.”
.
“Hish gombal!”, Dia berkata sambil melempar lap buluk yang teronggok di atas meja.
.
___
.
Mau kutulis ulang berapa kalipun, kenyataan tidak berubah. Aku belajar, kenyataan belum punya tombol undo. Dan cuma fiksi yang bisa ditulis ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s