Odong-Odong

“Pulang kantor tadi aku lihat cowok joget-joget di atas odong-odong”, aku membuka pembicaraan dengan informasi yang kurang penting tapi menarik perhatianku.
.
“Terus?”, jawabmu enggan.
.
“Ya, kamu bayangin deh. Dekat rel kereta. Ramai. Tut-tut-tut. Macet. Terus dia bisa aja gitu joget-joget. Di atas odong-odong. As if nothing’s happen”, aku menyerocos.
.
“Njuk piye? Masnya kamu suruh duduk aja? Main handphone? Baca berita perang dunia? Banjir Jakarta? Kasus Jiwasraya? Terus skeptis, kaya orang-orang?”, jawabmu tak kalah panjang.
.
“Yaa, nggak gitu juga sih”, aku paham yang kau siratkan.
.
“Nah, kan”, ucapmu puas. “At some points, ignorance is a bliss”, tambahmu sok bijak.
.
Aku buru-buru beranjak mengambil tas, “Ya udah, aku mau pergi lagi, ya”.
.
“Mau kemana, jam segini”, matamu melirik ke arah jam dinding.
.
“Ih, perhatian banget sih. Katanya ignorance is a bliss”, aku menggoda.
.
Kau memutar bola matamu, entah jengah, entah sok nggak bahagia.
.
“Aku cari odong-odong juga, ah”, sahutku lagi sambil membuat gestur tangan Salt Guy. Nggak ada hubungannya. Sengaja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s