Amarah

Ada yang bilang, saat sedang marah kita bisa mencoba menjabarkan kemarahan ke dalam bahasa baku untuk membuat amarah berangsur reda.
Demikian pula jika kita marah pada seseorang, mengomunikasikan emosi tersebut dalam kalimat baku akan membuat maksud kita lebih mudah diterima dan tidak menyebabkan kesalahpahaman lebih panjang.
.
Sebenarnya saya tidak ingat benar siapa yang mengucapkan hal ini, bisa saja saya hanya mengada-ada supaya terdengar lebih sahih 😬 (*sebuah sangkalan).
.
Studi kasus : kita marah karena ada seseorang yang memotong jalan dengan ugal-ugalan saat kita sedang berkendara dengan tenang. Lalu, dengan segera kita mengumpat, “gi*a, nyetir nggak pake o*ak!”.
.
Umpatan spontan memang terkadang sulit ditahan, namun amarah berkepanjangan dapat diminimalisir dengan mengupas umpatan menjadi : saya tadi berkata kasar karena orang tersebut memotong jalan tanpa pertimbangan yang matang, sehingga dapat membahayakan orang lain.
.
Contoh jika ingin marah pada orang lain dan berkata, “gimana sih, gini aja nggak bisa!?”.
Dapat dilunakkan menjadi : saya berekspektasi kamu dapat mengerjakan apa yang saya minta, sehingga ketika kamu gagal melakukannya, saya merasa kecewa.
.
Terbayang ya, membuat deskripsi baku itu melelahkan dan bertele-tele. Mungkin memaksa otak untuk menjabarkan sesuatu dengan bahasa yang tidak kita gunakan sehari-hari, sedikit banyak membantu mengurangi jatah energi yang dapat dipakai otak untuk meledakkan emosi (*sebuah kesoktahuan).
.
Mengumpat mungkin sesaat melegakan, namun menanggung amarah itu membebani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s