#lifegoals

“Aku pingin mati tenang, le. Merem, tidur, lalu selesailah sudah”. Itulah kata-kata yang sering diulang kakek padaku sejak 20 tahun lalu.
.
Dalam memori masa kecil samar-samar, aku ingat kematian nenek meninggalkan luka mendalam untuknya.
.
Jeritan ambulance pagi buta.
Sawah yang harus pindah tangan.
Hingga air mata tak sempat tumpah.
.
Sayang setelah segala drama yang terjadi,
Tuhan tetap tidak bisa dinegosiasi.
.
Kakek sempat marah, lalu berhenti berdoa.
Tidak berguna, katanya.
Untung ia marah tidak lama.
Karena dalam Dialah sukacita, ucapnya juga.
.
Setahuku kakek tidak menginginkan apa-apa.
Jangankan menyebut menikah lagi,
ia pun tidak pernah minta sawahnya kembali.
Sejauh yang aku tahu, dia hanya ingin mati tenang, #lifegoals kalau kata anak jaman sekarang.
Seolah itu satu-satunya tujuan melanjut hidup,
life goalsnya adalah mati.
.
11 Januari
Di depanku kakek terbaring dengan mata terpejam. Nafasnya pendek-pendek. Bergeming ketika kupanggil.
.
Handphone sudah aku genggam,
nomor ambulance tertulis di layar.
.
“Aku pingin mati tenang, le. Merem, tidur, lalu selesailah sudah”
.
Sungguh aku hanya perlu melakukan panggilan.
.
Jadi aku coba memanggil Tuhan.
.
Dalam Dialah sukacita.
.
Dalam Dialah tanda tanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s