Selera Humor Tuhan

Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita kontrol. Namun di situlah menariknya hidup. Di titik kita tahu apapun yang kita lakukan tidak akan berpengaruh banyak. Di titik akhirnya kita berdamai dengan semua keinginan dan menerima dengan rela. Di titik itulah hidup akan terasa lucunya.
Sungguh tragedi atau komedi hanya perkara sudut pandang. Dan di hari yang sulit, jangan-jangan tuhan hanya sedang bercanda dan menguji selera humor kita.
.
Saya menulis paragraf itu pada 17 Agustus 2015, di Bandara Hanandjoeddin, sebelum pulang, setelah melakukan perjalanan dengan beberapa teman.
.
Apa yang terjadi sebelumnya?
.
H-2
Kamera saya “tercelup” ke laut Belitung yang lengket dan pekat, menyebabkannya tewas seketika, meninggalkan saya dengan kamera ponsel 3 MP yang mau tidak mau, harus bisa diandalkan.
.
H-1
Niat hati ingin difoto di Danau Kaolin, tapi OOTD sepertinya tidak tercipta untuk semua orang.
Alih-alih foto cantik, kaki saya “tercelup” ke tanah lembek di sekitar danau. Nggak tanggung-tanggung, sampai selutut dong. Dan berhubung tanahnya lembek macam pasir hisap, bayangkan saja bagaimana cara keluarnya.
.
Hari H
Sengaja beli tiket pulang terpisah dari rombongan, penerbangan saya adalah connecting flight TJQ-CGK dilanjutkan CGK-DPS.
.
Setelah runtutan kesialan di atas, saya tidak terlalu kaget ketika dapat info penerbangan TJQ-CGK ditunda.
Tidak kaget sih tapi mulai panik, bercampur dengan capek, kecewa, dan marah.
.
Tapi alam semesta memang punya selera humor tingkat tinggi. Tak lama kemudian sms masuk ke ponsel saya.
Jam keberangkatan penerbangan CGK-DPS dimajukan.
.
Berhubung saya pakai 2 penerbangan beda maskapai, connecting flight tersebut tidak lagi cocok jamnya.
.
Membaca sms tersebut saya langsung tertawa. Bukan tertawa ironi atau tertawa sambil menangis, tapi tertawa sungguhan.
Saya tidak menemukan kata lain selain lucu, untuk sederetan peristiwa itu.
.
Ada banyak hal yang bisa dipelajari dalam hidup, salah satunya adalah cara menertawakan hidup itu sendiri.
Hari itu, duduk sendiri di bandara, saya belajar satu ilmu penting, “Jangan terlalu serius, nanti cepat tua.”
.
Dan ajaibnya, ini bukan fiksi. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s