Kakek Tidak Mati

Tangannya terkulai lemas. Wajahnya memucat. Aku susah payah mengangkat tubuh keringnya ke atas kursi roda pinjaman tetangga. Tetes air hampir jatuh di sudut mata, tapi aku paksa kelenjar air mata tidak manja. Kali ini saja.
.
Aku dorong kursi roda dan kakekku yang diam tak bergerak di atasnya. Aku lewati rumah-rumah yang cuma sepetak-sepetak. Gang-gang kecil yang becek bercampur tahi ayam. Malam sudah larut, tak ada suara kehidupan. Hanya derit kursi roda yang aku dorong dengan segera.
.
“Kakek tidak mati. Kakek tidak mati”, aku mengulangnya beribu kali dalam hati, sembari sedikit berlari. Roda kursi yang awalnya berderit mulai menjerit. “Kakek tidak mati. Aku tak mau sendiri”, aku berusaha percaya ini adalah mantra. Akan kembali panjang napasnya. Pastinya. Pasti bukan? Ya kan?
.
Keluar dari gang, aku buru-buru belok ke jalan raya. Tak aku pedulikan lampu merah, toh jarum pendek jam sudah di tengah. Rem mobil berdecit, klakson panjang, dan makian. Aku masih berlari, tak ingin peduli. Tangan kakek terjatuh dari pangkuan. Aku terus berlari, pura-pura tak sadari.
.
Satu belokan lagi ke kiri. Rumah Pak Mantri. Kuketok cepat pintunya dengan jemari.
Sambil menanti aku diam-diam bernegosiasi.
“Tuhan, jangan hari ini kakek mati. Tunggu dulu aku tamat sma. Tunggu aku dapat kerja. Kakek biar mati nanti saja. Ya?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s