Penerjemah

… sepanjang menyangkut kompetensi, berusaha mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan baik dan benar …
(Kode Etik Profesi Penerjemah. Himpunan Penerjemah Indonesia)
.
Langit Jakarta cukup cerah hari ini. Awal yang baik pikirku. Hari ini aku akan bertemu klien baru.
Mereka peneliti dari Belanda. Dengan mereka, aku sudah berbicara via surat elektronik sebelumnya. Hari ini aku hanya perlu mengantar mereka ke beberapa kampung untuk wawancara. Ingin bertanya sejarah kota ke sejumlah warga kabarnya.
.
Pukul 10 pagi, kami sudah keluar masuk lorong kampung. Di kiri kanan rumah papan tiga lapis, di ujung jalan pencakar langit begitu manis. Sesungguhnya aku tak tahu itu harmoni atau ironi, tapi aku selalu suka gang-gang ini.
.
Di sini kekurangan dan kehangatan hidup dekat, begitu lekat.
Bahkan sangat mudah menemukan pengguna kaos partai biru dan pemakai kaos partai merah beramah tamah dalam satu rumah. Percayalah, buat mereka pemilu tak lebih dari kaos hadiah dan bagi-bagi sembako murah.
Setiap era sama saja, ujar mereka jujur. Sungguh aku malu betul. Tapi meski enggan, mau tak mau aku harus mengalihbahasakan.
.
Hampir tengah hari, kini kami bertemu aki-aki. Saat ditanya usia, dia mengangkat sembilan jarinya. Para peneliti terlihat bergelora, lalu lekas mereka memintaku bertanya, “Bapak lebih suka sebelum atau setelah merdeka?”.
.
“Sebelum”, jawab bapak itu segera.
.
Aku diam saja. Mereka menatapku tak banyak kata. Aku bingung harus bilang apa.
.
“What did he say?”, mereka tampak tidak sabar.
.
“After independence”, jawabku dengan mata nanar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s