Medali Maraton

“If you finished a marathon but you don’t post it online, did you finish a marathon?”. Lagi-lagi kau melemparkan pertanyaan acakmu. Aroma bumbu nasi goreng yang baru saja kau masukkan ke wajan mulai memenuhi ruangan, sementara aku masih khusyuk merangkai kata untuk foto yang inginnya aku unggah hari ini ke media sosial.
.
“Ya iyalah”, jawabku sambil sibuk mengetik. “Eh, Bahasa Inggrisnya pencapaian apa ya, say?”. Aku benar-benar lupa satu kata itu. Deskripsi fotoku cukup panjang kali ini, mungkin karena itu otakku jadi ruwet dan bingung sendiri.
.
“Achievement, accomplishment, attainment”, jawabmu cepat sambil memasukkan dua porsi nasi ke dalam penggorengan.
.
“Ya, aku tetap selesai maratonlah”, aku melanjutkan. “Kan aku dapat medali”. Aku membaca ulang kalimat yang kubuat, memastikan tidak ada salah ketikan.
.
“Gimana kalau nggak dapat medali?”, tanyamu kembali. Setelahnya kau mencicipi satu suapan nasi, lalu menambahkan kecap lagi.
.
“Mana bisa kaya gitu, panitianya pasti korupsi itu”. Aku sudah yakin kalimatku benar dan indah, jadi aku menekan tombol unggah tanpa resah. “Kan aku sudah bayar mahal. Masa nggak dapat medali”, tambahku.
.
“Memangnya kamu ikut maraton buat koleksi medali?”, tanyamu sambil menuangkan nasi goreng yang sudah jadi ke dalam piring.
.
“Ya nggak juga sih”
.
“Terus buat apa?”
.
“Hmm..”
.
“I hit you with that ddu-du ddu-du du”. Belum selesai aku berpikir, kau malah berdendang. Di depanku kau letakkan sepiring nasi kecoklatan.
.
“Jadi lebih cantik Ussy Sulistiawaty atau Lisa Blackpink?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s