Immortal Jellyfish

“Kalau bisa terlahir lagi jadi makhluk apapun, kamu mau jadi apa?”, tanyaku membuyarkan lamunanmu di depan akuarium ubur-ubur yang sekitarnya mulai sepi ditinggalkan pengunjung.
.
“Hmm, turritopsis dohrnii”, jawabmu sekenanya. Matamu tak lepas dari agar-agar yang menari dengan ritme konstan disorot cahaya warna warni.
.
“Hahaha. Apa tuh? Nggak ada yang lebih sulit namanya?”, tanyaku menggoda.
.
Kau mengalihkan pandanganmu dari dinding kaca, wajahmu setengah serius, setengah tersenyum. “It’s immortal jellyfish, hon. Isn’t it amazing to be able to live forever?”
.
“Gimana yaa..”, jawabku tak acuh sambil berjalan ke arah kotak kaca lain, kotak ubur-ubur lainnya.
.
Kau mengikutiku lalu bertanya, “Terus kamu, mau jadi apa?”
.
“Aku mau jadi lalat capung!”, jawabku cepat dengan mata berbinar.
.
“24 hours life span? Really? Why?”, kau tampak tidak terima. Dahimu mengerut, seperti biasa.
.
“Supaya kamu bisa mencintaiku. Melihatku mati. Lalu menyesal memilih hidup abadi. Hahaha.”
.
“Hahaha. Tahi.”
.
Aku tertawa lepas melihat ekspresi di wajahmu. Tak pernah ada yang mengucap tahi sebahagia itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s