Negara Maritim?

“Masihkah bisa negara ini disebut negara maritim, jika penduduknya tidak punya kedekatan dengan laut dan terus melihat laut sebagai benda asing?”, tanyaku saat melihatmu dan puluhan manusia lainnya sibuk sendiri mengabadikan matahari terbenam di tepian laut yang serupa garis.
.
“Apa salahnya sih merayakan senja?”, kau memalingkan wajah dan protes. “Memang berapa persen sih yang hidup dari laut dan menghidupkan laut? Dan berapa persen yang hidup bertani sehingga bisa disebut negara agraris?”, cerocosmu tak mau kalah. “Negara ini penuh totum pro parte tahu, ikuti sajalah.”
.
“Apa bagusnya sih patuh dan lurus? Bukankah hanya ikan mati yang ikut arus?”
.
“Mau sampai kapan kamu mengutip kalimat sejuta umat yang asalnya entah darimana itu? Lagipula sudahlah, aku sedang tidak ingin adu mulut.”
Kau berdiri, membersihkan pasir dari celanamu, dan perlahan berlari kecil. “Senja sudah hampir hilang, aku mau mendekat ke laut.”
.
Aku terdiam.
Lalu ikut mengabadikan jingga, sapuan ombak tipis, dan langkahmu yang menjauh, diam-diam.
.
Beberapa kalimat ditulis di kereta Jakarta-Semarang, 11 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s