Wijaya Kusuma

“Lho kowe arep ning Yogjo? Iki kembange wis meh mekar, ngko kowe ora iso ndelok.”
(“Lho kamu mau ke Yogya? Ini bunganya sudah mau mekar, nanti kamu nggak bisa lihat.”)
.
Begitulah ibu menjawab, ketika saya minta ijin ke Yogya untuk datang ke pernikahan seorang teman akhir tahun kemarin.
.
Awalnya saya pikir, apaan sih, bunga mekar saja kok rasanya sepenting kunjungan presiden. Bahkan ketika akhirnya saya tidak berlama-lama di Yogya dan memutuskan untuk pulang segera, bunga ini tidak masuk dalam pertimbangan saya sama sekali.
.
Jam 11 malam, setiba saya dari Yogya, ibu menyambut dengan wajah gembira dan buru-buru menyuruh saya memfoto bunga yang kebetulan mekar malam itu seolah menunggu saya pulang.
.
“Memangnya apa sih ini namanya?”
“Wijaya Kusuma, jarang-jarang ini mekarnya.”
Malam itu ada 6 bunga yang mekar di rumah. Ibu sangat senang.
.
Beberapa hari setelahnya, saya iseng menjelajah internet dan menemukan informasi ternyata bunga ini punya genus yang sama dengan Tan Hua. Mungkin terdengar lebih familiar untuk yang sudah nonton Crazy Rich Asian ya.
.
Lalu mendadak saya merasa ningrat, walaupun sadar terlambat. Haha.
.
Definisi ningrat di sini bukan punya bangunan khusus untuk menyimpan bunga di tengah kebun maha luas ya. Saya merasa ningrat karena punya ibu yang hijau jemarinya, hingga menanam apa saja bisa berbunga. 🌱

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s