Manusia Jakarta

Setiap kali kembali ke Jakarta dari luar kota, hal pertama yang mengusik saya adalah pemandangan manusia di Jakarta yang luar biasa banyak.
.
Di sini manusia, di sana manusia, di situ manusia. Terasa setiap jengkal disesaki oleh nafas dan gerakan yang tergesa, atau malah lunglai putus asa.
.
Entah apa yang lebih mengusik, jumlah manusia per meter persegi yang berkali-kali lipat dari kota besar lain di dunia, ataukah kecemasan yang terlihat jelas di balik ribuan mata dengan kaki tergesa atau lunglai putus asa itu.
.
Ketika pagi selalu dipenuhi dengan kepulan asap berbalut ambisi, malam diwarnai hembusan asap pudar di antara pendar halogen samar. Pun begitu pemandangan tak jauh berbeda, dalam keduanya selalu ada setumpuk manusia yang tergesa atau lunglai putus asa.
.
Bapak saya sering berkata, hal yang mengusik kamu adalah guru, kamu perlu latihan supaya bisa naik kelas. Karena itu saya kembali, saya mau latihan supaya bisa naik kelas. Kepada Jakarta saya ucapkan selamat malam, besok kita belajar lagi ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s