Kerikil untuk Sutikno

Setiap kali ditanya mau jadi apa jika bisa dilahirkan kembali, saya selalu menjawab ingin jadi kerikil. Orang-orang yang mendengarnya selalu heran atau sontak tertawa, karena bayangan kerikil di kepala saya dan mereka sangat berbeda.

Dari dulu saya suka memperhatikan orang, tapi saya tak suka jika orang yang saya perhatikan menyadari tatapan saya. Saya suka mendengarkan sekelompok orang berbicara, tapi jarang saya ingin terlibat dalam percakapan tersebut. Saya menikmati jadi penonton, jadi latar belakang, jadi yang tidak terlihat.

Lalu saya bertemu dia. Sutikno.
Dengan sederhana, saya tak ingin jadi sederhana lagi.
Dengan angkuh, saya tak sudi jadi yang tak terlihat. Saya ingin jadi tokoh utama.
Dengan sombong, saya tak ingin jadi latar di belakang. Kini saya mau jadi yang tersorot lampu panggung dan berhias dempul tebal.

Bukannya saya lantas suka keramaian, hanya saja saya ingin terlihat dan teringat olehnya. Karena kerikil tak akan mencuri hati siapapun, bahkan tak seorangpun sadar keberadaannya.

Oktober 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s