Ke Dalam Laut Tak Bernama

Pada laut tak bernama itu aku menanyakan keberadaanmu, Sutikno.
Bertahun aku merindukanmu dan jingga yang tertanam jauh dalam memoriku.
Jingga dari kunang-kunang yang betah terbang di hitam matamu dengan riang.
Jingga pertama yang membuat aku jatuh cinta, jauh sebelum cintaku pada senja, sayang.

Pada ombak tak berarah itu aku menanyakan keberadaanmu, Sutikno.
Tak cukupkah sewindu untukmu mengembara mencari yang kau sebut dengan bahagia?
Tak rindukah dirimu pada rumah, pada pulang, atau mungkin padaku?
Tak inginkah kau kembali menanti senja di sudut pantai, dengan ombak berkejaran di jemari kaki dan helai rambutku di jemari tanganmu, sayang?

Pada pasir pantai yang tak lagi menyakiti kakiku, aku menanyakan keberadaanmu, Sutikno.
Waktu tak pernah terasa selambat ini.
Dan laut yang sedari kecil adalah mimpiku, entah mengapa menjelma tak berarti tanpa jingga matamu di cakrawala.
Menyedihkan bukan, sayang?

Pada angin yang konon membawa kabar, aku berkata padamu, Sutikno.
Aku tak akan lagi bertanya karena seharusnya aku sudah menerima ketiadaanmu semenjak lama.
Aku akan pergi, sayang.
Meninggalkan laut tak bernama ini dan menghanyutkan memori tentangmu dalam buih ombak dan desir lautan.

Pada senja bulan April, aku menitipkan kecup terakhir untukmu, Sutikno.
Semoga kau dapat mengerti.
Bahwa sesungguhnya penantian tak pernah semematikan ini.

posted from Bloggeroid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s