Bicara Cinta (dan Perbedaan)

Sudah lama nampaknya sejak terakhir kali saya membicarakan perkara cinta dengan orang lain. Dan hari ini kami, saya dan 8 orang lain, tanpa sadar larut ke dalam pembicaraan rumit tersebut. Sesungguhnya, mau dibahas sampai kapanpun, saya akui perkara cinta tak pernah sederhana. Semakin menjadi-jadi ketika persoalan (kamu dapat membaca cinta sebagai persoalan) ini dibahas oleh gender berbeda dengan sudut pandang yang sulit saya pahami.
Mau tak mau disadari, memang ada banyak karakter manusia dan kaitannya dengan ‘hubungan’. Ada orang yang sangat posesif, sebaliknya ada yang tidak suka dikekang. Ada kubu yang merasa posesif adalah bentuk rasa sayang, di sudut lainnya ada yang berpendapat itu hanya bentuk rasa tak percaya diri. Ada yang butuh sekali diperhatikan setiap saat, dan ada yang cuek seolah tak peduli. Ada yang merasa selingkuh itu bukan masalah besar selama dalam ranah fisik tak melibatkan hati, ada yang tidak bisa terima sama sekali. Dan seterusnya.
Mungkin sebenarnya PR besar kita adalah menemukan seseorang yang sudut pandangnya cocok dengan kita. Cocok disini tak melulu harus satu sudut pandang atau berbeda sama sekali. Cocok disini berarti saling mengunci. Maksud saya, seorang yang cuek mungkin baik apabila bertemu dengan orang yang tidak suka terlalu dikekang. Orang yang posesif mungkin baik jika bersama orang yang suka diperhatikan. Orang yang tak bisa berdiam pada satu orang mungkin akan cocok jika bertemu orang yang bisa sangat percaya (akan pasangannya dan dirinya sendiri tentunya). Mungkin. Entah juga.
Dalam pikiran saya, alangkah baik jika seorang dapat menemukan pasangan dengan sudut pandang yang sama, baik dalam perkara posesif atau cuek, selingkuh atau tidak, nyalakan atau matikan lampu saat tidur, dan seterusnya. Dulu, seorang dokter gigi pernah memperkenalkan istrinya yang juga dokter gigi pada saya dan berkata, “Kalau beda itu interesting, kalau sama everlasting.”
Namun, menyikapi perkara perbedaan, seorang pastur yang baru-baru ini saya temui mengatakan, “Biarkan saja perbedaan yang ada, karena yang perlu kamu lakukan adalah memberi kasih.” Sebuah nasehat yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya sangat sulit dilakukan, mengingat ofensif terhadap perbedaan adalah sifat yang sering kita alami sebagai manusia.
 
Untuk belajar tentang kasih, saya mengutip 1 Korintus 13:4-8
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan.
Di akhir cerita, saya teringat kembali akan perkataan yang pernah menguatkan saya di saat-saat sulit, saya tak ingat jelas siapa yang mengatakannya. “Jika seseorang mencintai kamu dengan cara yang tidak kamu sukai atau tidak kamu inginkan, bukan lantas berarti ia tidak mencintai kamu.” Saya merasa hal ini perlu sekali diingat, mengingat di saat yang tidak baik kita sering berpikir bahwa kita ‘memberi’ lebih banyak, dan pasangan tak ‘memberi cukup setimpal’ hanya karena perbedaan cara dalam memberi. (kamu dapat membaca cinta sebagai memberi). Dengan demikian, perbedaan cara memberi bukan berarti ia tidak memberi sama sekali, namun kita butuh kesadaran diri untuk menerima dan mensyukuri pemberian yang berbeda tersebut.
Sebagai tambahan, saya baru saja membaca cerita pendek karya Haruki Murakami yang entah sadar atau tak sadar berusaha mendeskripsikan cinta dengan fenomenologi, cara tersederhana sekaligus terumit untuk menjelaskan sesuatu. Menurut saya cerita cinta ini sungguh sederhana, namun sekaligus sangat menyentuh. Mungkin kamu akan berminat membacanya. Samsa In Love.
Demikian. Hanya memberi, tak harap kembali. Seandainya bisa sesederhana itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s