Cerita Tentang Kakek

Insomnia dan kabar kematian seseorang selalu membuat saya berakhir di mimpi tentang kakek.
Ia adalah penyesalan terbesar saya terhadap kematian seseorang.
Kakek saya orang yang rajin dan tegas.
Ia sangat suka merokok, ia bahkan melinting sendiri rokoknya.
Kegemarannya adalah duduk-duduk di ruang tamu sambil memandang jauh ke jalan raya.
Gambaran tentang ia yang terbentuk dari cerita-cerita ibu adalah ia seorang yang sering marah, galak kata orang-orang.
Saya kecil adalah saya yang pemalas, suka bangun siang, dan sangat tidak suka dimarahi.
Melihat watak beliau yang demikian, saya yakin saya akan sering kena marah.
Saya membentuk ketakutan saya sendiri, saya membentuk pikiran saya bahwa kakek tidak menyukai saya, dan pikiran tersebut juga yang memberi jarak dengan beliau.
Pernah saya tinggal sendiri di rumah kakek, tanpa ibu, bapak, maupun adik.
Seingat saya, nenek yang jauh lebih ramah dan lebih saya sukai, ketika itu telah meninggal. 
Mungkin saya takut. Sepanjang siang saya mengunci diri di kamar.
Saat kakek memanggil, saya pura-pura tidak dengar, ceritanya saya sedang tidur.
Waktu itu saya masih kecil.
Saya remaja mulai mengerti bahwa kakek sebenarnya orang yang baik.
Mungkin dia sering terlihat tidak ramah karena ia lelah, ia sendirian, atau usia beliau yang terlampau jauh dengan saya.
Saya remaja mulai merasakan adanya panggilan untuk mengenal kakek.
Kakek yang saya kenali sendiri, bukan yang saya kenal dari cerita ibu, atau kata orang-orang.
“Ayo ke ruang tamu, lalu bercakap dengan kakek”, kata sebuah suara di kepala saya.
Dengan cepat suara yang lain menjawab, “Jangan sekarang, lain kali saja.”
Suara kedua kerap menang, namun pernah suatu kali saya menuruti suara pertama.
Saya pergi ke ruang tamu, duduk diam, mulai bertanya-tanya, lalu kakek bercerita.
Ia bercerita jaman dahulu ia bisa pergi berlima ke Dieng dan menginap disana berbekal uang 300 rupiah saja, kalau saya tidak salah ingat.
Lalu ia bercerita bahwa jaman dahulu pecel dibungkus tidak dengan daun pisang, tapi dengan daun jati, kalau saya tidak salah ingat.
Dan mungkin beberapa cerita lain yang kini saya sudah tidak ingat.
Yang saya ingat, saat itu sangat menyenangkan. Saya berhasil menghancurkan ketakutan yang saya ciptakan sendiri.
Kunjungan-kunjungan lain ke rumah kakek, entah mengapa suara kedua selalu berteriak lebih keras.
“Jangan sekarang, lain kali saja.”
Padahal ada banyak sekali yang ingin saya dengar, cerita tentang kemerdekaan, apa yang kakek lakukan ketika itu, ketika Belanda datang, ketika Jepang datang, dan lain sebagainya.
Tapi saya memilih diam. “Jangan sekarang, lain kali saja”, suara itu terus terdengar.
Ketika itu kakek mulai sering sakit.
Beberapa kali ketika kami tidak disana, kakek jatuh tidak sadarkan diri.
Beberapa kali pula ia memeriksakan diri ke dokter.
Saya tidak ingat benar apa nama penyakit kakek, saya sungguh tidak suka seseorang sakit parah, dan saya tidak ingin mengerti.
Yang saya tahu, setiap berpisah dengan kakek, mulai muncul pertanyaan di kepala saya, “Apakah saya masih bisa bertemu dengan kakek dalam keadaan yang sama di lain waktu?”
Beberapa kali kunjungan ke rumah kakek setelah ia jatuh sakit, suara kedua terus menang, dan kepulangan saya dari sana selalu diiringi setitik penyesalan juga pertanyaan besar tersebut. Suara kedua selalu meyakinkan. “Lain kali saja”
Hingga pada suatu ketika, lain kali untuk saya sudah habis. Kakek pulang untuk selama-lamanya.
Saya menatap tubuhnya diam, saya tidak menangis.
Dua nenek saya telah meninggal sebelumnya, demikian dengan kakek dari pihak bapak.
Ia kakek terakhir yang saya miliki.
Lain kali telah habis untuk saya sejak hampir setahun yang lalu.
Saya terlalu banyak menunda dan lain kali sudah tidak mau berkawan dengan saya.
Sejak saat itu, saya sering kali dikunjungi kakek dalam mimpi.
Saya hanya bisa puas mendengar cerita kakek dari mimpi.
Menerima buku-buku yang kakek minta saya baca dari mimpi.
Dan mengenal kakek lebih dekat di dalam mimpi.
Setiap usai bertemu kakek, saya terbangun dengan sebuah kekecewaan besar.
“Kadang lain kali tidak selalu ada, nak”, suara pertama berkata pelan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s