Manusia dan Komunikasi

Akhir2 ini aku merasa manusia semakin kehilangan kemanusiaannya. Dengan berkembang pesatnya teknologi, telepon genggam, internet, videocall, dan sebagainya, manusia semakin mudah terhubung dengan dunia2 lain yang dahulu tidak terjangkau, tapi semakin terpisah dari dunia yang sebenarnya ada di depannya.
Sebagai contoh, pernah suatu kali aku melihat sepasang suami istri yang terbilang cukup berumur, berdiri bersebelahan. Karena posisi mereka berdiri adalah di depan suatu gedung, aku hampir yakin bahwa mereka sedang menunggu supir mereka datang menjemput. Aku rasa waktu yang dibutuhkan untuk menunggu supir datang tidak selama itu, sehingga akan sangat wajar jika mereka menggunakan waktu itu untuk berbincang satu sama lain, bergandengan tangan, bertukar pikiran, dan lainnya hal2 yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Tapi bukan hal itu yang aku lihat, melainkan mereka berdua yang sibuk dengan Blackberrynya masing2. Berdiri bersebelahan, namun mereka masing2 berada di dunia yang berbeda.
Hal yang juga berpengaruh terhadap kejadian semacam ini adalah berkembangnya twitter, bbm, dan media2 komunikasi dunia maya lainnya. Twitter misalnya, secara tidak langsung ‘memaksa’ penggunanya untuk menuliskan dia sedang melakukan apa, dimana, dengan siapa (*you sing you lose). Maka, tidak heran sering muncul status2 seperti “Lagi di anu dengan @ini, @itu, @ono” atau “Lagi nonton film xyz” dan sebagainya. Tanpa bermaksud menyudutkan siapapun, ini hanya pikiranku saja. Status2 semacam ini kadang2 menurunkan kualitas peristiwa yang sedang terjadi itu sendiri. Status2 semacam ini, sudah pasti diketik ketika peristiwa itu berlangsung (karena jika ditulis setelahnya sudah dianggap basi), waktu yang digunakan untuk mengetik, melihat reply, menjawab, dan seterusnya itulah yang secara tidak sadar mengurangi kualitas peristiwa yang sedang terjadi. Secara tidak sadar, kita tidak 100% berada KINI dan DISINI. Akhirnya, banyak hal2 yang terskip, banyak hal2 yang tidak benar2 kita jalani, kita nikmati dan sebagainya.
Pemikiran yang lain. Twitter, handphone, dan teman2nya itu kini sering aku temui digunakan sebagai media pelarian. Ketika sedang berada di situasi yang tidak menyenangkan, bersama seseorang yang tidak menyenangkan pula, telepon genggam dan twitter bisa digunakan sebagai “kambing hitam” tidak bisa banyak berinteraksi dengan orang yang ‘tidak diinginkan’ tersebut. Padahal, pada awalnya semua orang memang tidak mengenal satu sama lain, pada awalnya semua tidak cocok satu sama lain. Menurutku memang butuh proses untuk kenal, tahu, lalu baru menjadi dekat. Namun, jika proses tersebut diskip dengan asik berkomunikasi (lewat dunia maya) dengan seseorang yang sudah dikenal, bagaimana bisa kita mengenal orang baru dan melepaskan diri dari ‘zona aman’?
Mungkin secara tidak sadar, aku juga pernah melakukan hal tersebut. Tidak munafik, jika lagi sendirian aku juga menggunakan dunia maya sebagai sarana agar tidak merasa kesepian. Tapi sebisa mungkin ketika lagi sama orang lain, aku tidak banyak2 berhubungan lewat telepon genggam.
Karena aku tahu, sedih rasanya ketika lagi bersama orang dan dia lebih asik dengan handphonenya daripada dengan kita. Simpel saja, karena aku tidak suka dibegitukan, aku tidak ingin begitu terhadap orang lain.
Inti dari segala macam pikiran berkepanjangan ini :
1. menjadi KINI dan DISINI 100% itu sangat penting
2. mari lebih banyak berkomunikasi dengan manusia daripada dengan benda mati
*sebuah catatan untuk diri sendiri di masa depan dimana akan lebih banyak benda mati yang ‘hidup’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s