Kadang Bekerja Keras Saja Tidak Cukup

Kemarin minggu, akhirnya aku main basket lagi setelah sekian lama. Tanding tepatnya.
Kebetulan aku enggak terlalu kenal sama teman 1 tim. Aku bisa ikut turun main pun gara-gara diajak salah seorang teman SMA. Dan teman 1 tim lain, terus terang banyak yang aku baru kenal hari itu.
 
Seperti biasa kalau main basket, aku enggak peduli apapun, tidak mendengar apapun, tidak melihat apapun, kecuali bola. Dulu saat SMP aku begitu egois saat main. Jika berhasil dapat bola, aku akan berusaha sekuat tenaga membuatnya berubah menjadi angka. Sendirian. Karena itu aku bilang aku bekerja keras. Mati-matian mengejar bola, mendapatkannya, memasukkannya.
 
Lama kelamaan aku sadar. Basket bukan permainan individual. Ada sesuatu yang disebut kerjasama tim. Percaya teman. Formasi. Pertahanan. Ada baiknya aku sudah mengetahui hal-hal itu sebelum aku main satu tim dengan orang-orang yang belum terlalu aku kenal itu.
 
Ya, walaupun sudah mengerti, aku akui egoku masih besar, beberapa kali kakak yang seolah pelatih berteriak ini itu saat aku sedang main, namun aku tetap tidak dapat mendengar dan mengerti jelas apa yang dia katakan.
 
Ketidakdekatan dengan pemain lain pun membuatku jarang mendapat operan bola dari mereka, padahal aku sering dalam posisi kosong tanpa lawan di sekitarku. Hari itu aku sudah merasa bekerja keras (menurut versiku adalah berlari sekuat tenaga mengejar bola), sampai si kakak yang seolah pelatih tadi memanggilku dan menggantiku dengan pemain lain. Dan sampai akhir pertandingan aku tidak pernah mencetak angka sekalipun.
 
Terduduk di pinggir lapangan dengan lelah dan perasaan kurang senang karena tiba-tiba diganti, aku berpikir dan tersadar. Ini semua tidak cukup. Berlari sekuat tenaga mengejar bola tidak cukup tanpa diimbangi mengenal teman satu tim dan mendapat kepercayaan mereka. Tidak cukup tanpa mendengar orang di luar lapangan yang melihat jelas apa yang sebaiknya dilakukan. Tidak cukup tanpa latihan banyak sebelumnya (mengingat aku sudah lama enggak main), sedangkan orang lain mungkin lebih rutin melakukannya.
 
Itulah, aku tersadar. Kadang yang sudah aku anggap bekerja keras itu tidak cukup untuk disebut cukup. Banyak aspek lain yang mendukung sebuah kesuksesan, bukan hanya dari sesuatu yang kita anggap sebagai kerja keras itu saja. Dan melihat orang lain sebagai pembanding dan mendengarkan kata mereka sebagai pengamat di luar permasalahan itu penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s